KIDUNG AKAR BAKAU

MandatRakyat.id _ KIDUNG AKAR BAKAU, Cerpen karya: Sudiyanto Satjahdiningrat (Cak Sudi) — Ketua MRAPEN (Mandat Rakyat PENA Nusantara)

 

Pada malam ketika neneknya menghilang, Naira mendengar hutan bakau bernyanyi. Bukan suara burung malam. Bukan pula desir angin yang menyisir daun-daun kecil di antara akar. Suara itu seperti suara manusia yang bernyanyi dari tempat yang sangat jauh.

“…jika akar dipatahkan, laut akan mencari rumah…”

Naira berdiri di ambang pintu rumahnya, memeluk kedua lengannya sendiri. Di kejauhan, lampu-lampu proyek menyala seperti mata raksasa. Besok pagi, kata orang-orang, alat berat akan masuk. Dan malam ini, neneknya belum pulang. Seminggu sebelumnya, Naira masih menganggap cerita tentang hutan bakau sebagai urusan orang tua.

Baginya, masa depan ada di tempat lain. Di panggung. Di bawah sorot lampu. Dengan mikrofon di tangan dan ratusan orang meneriakkan namanya. Ia ingin menjadi penyanyi. Bukan juru cerita kampung seperti neneknya.

“Cerita Nenek itu bagus untuk zaman dulu,” katanya suatu sore sambil memasang earphone. “Sekarang orang sudah punya TikTok.”

Neneknya tertawa kecil. Perempuan tua itu bernama Rasmi. Usianya hampir tujuh puluh tahun, tetapi suaranya masih bening ketika melantunkan tembang-tembang Madura yang diwarisinya dari ibunya.

“TikTok tidak membuat akar bakau tumbuh, Ra.”

Naira melepas satu earphone.

“Memangnya akar bakau bisa dengar?”

Rasmi menatap cucunya lama.

“Tidak.”

Ia tersenyum.

“Tapi manusia bisa.”

Naira tidak menjawab. Hari itu ia mendapat tugas dari sekolah: membuat dokumentasi tradisi lisan yang hampir punah. Guru Bahasa Indonesianya menyarankan agar ia mewawancarai neneknya. Mau tidak mau, Naira membawa ponsel ke kamar Rasmi.

“Ceritakan asal-usul hutan bakau di sini, Nek.”

Rasmi tidak langsung menjawab. Ia justru meminta Naira mematikan kipas.

“Kenapa?”

“Biar suara hutan ikut masuk.”

Naira mendengus, tetapi menuruti. Ia menekan tombol rekam. Lampu merah menyala. Rasmi mulai bercerita.

“Dulu, sebelum rumah-rumah berdiri di sepanjang pantai ini, laut pernah datang lebih jauh.”

“Sejauh apa?”

“Sampai halaman rumah nenek moyang kita.”

Naira menatap layar ponselnya.

“Terus?”

“Lalu mereka menanam bakau.”

“Kenapa?”

Rasmi menunjuk ke luar jendela.

“Karena mereka tahu laut bukan musuh.”

Suara Rasmi berubah ketika bercerita. Lebih rendah. Lebih dalam. Seolah-olah bukan hanya dirinya yang sedang berbicara.

“Orang-orang dulu percaya, akar bakau adalah jari-jari leluhur yang menahan tanah agar tidak hanyut.”

Naira tersenyum.

“Seram.”

“Yang lebih seram bukan cerita itu.”

“Apa?”

“Kalau manusia sudah tidak percaya lagi.”

Naira menurunkan ponselnya. Rasmi kemudian menceritakan sesuatu yang belum pernah didengar Naira. Setiap kali hutan bakau rusak, orang-orang kampung dahulu tidak sekadar menanam kembali.

Mereka berkumpul. Para juru cerita membacakan kisah leluhur. Para perempuan menyanyikan kidung. Anak-anak membawa bibit. Dan para nelayan menyusuri garis pantai sambil menyebut nama-nama tempat yang pernah dilindungi bakau. Mereka percaya satu hal:

Apa yang tidak diceritakan akan dilupakan. Apa yang dilupakan akan mudah dihancurkan.

Naira menatap rekaman di layar. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa cerita neneknya kuno. Ia merasa cerita itu seperti sesuatu yang sedang menunggu untuk ditemukan. Dua hari kemudian, papan pengumuman berdiri di dekat pantai.

PEMBANGUNAN KAWASAN WISATA PESISIR

Di bawahnya terdapat gambar gedung-gedung modern, restoran, tempat parkir, dan jalan yang membelah kawasan bakau. Sebagian warga bersorak.

“Ada pekerjaan!”

“Anak-anak kita tidak perlu pergi ke kota!”

“Desa akan maju!”

Tetapi para nelayan hanya diam. Mereka tahu pembangunan itu akan memakan sebagian besar kawasan mangrove. Naira melihat neneknya berdiri paling belakang ketika kepala desa menjelaskan rencana tersebut.

“Bagian bakau yang ditebang akan diganti dengan penanaman di tempat lain,” kata seorang lelaki berjas dari perusahaan.

“Bagaimana dengan yang sudah besar?” tanya Rasmi.

“Bisa ditanam lagi, Bu.”

Rasmi tertawa pendek.

“Pohon berumur tiga puluh tahun bisa diganti dengan bibit?”

Lelaki itu tersenyum kaku.

“Semua bisa dihitung secara ekonomi.”

Rasmi menatap hutan.

“Tidak semuanya.”

Malamnya, Naira menemukan neneknya duduk sendirian di teras.

“Nek.”

“Hm?”

“Kalau bakau ditebang, memang kenapa?”

Rasmi tidak menjawab. Ia mengambil segenggam tanah dari pot di sampingnya.

“Coba genggam.”

Naira menurut.

“Sekarang buka tangan.”

Tanah itu jatuh berhamburan.

“Begitulah tanah tanpa akar.”

Rasmi menatap laut.

“Sekali badai besar datang, kita baru tahu apa yang selama ini kita anggap tidak berharga.”

Keesokan harinya, Naira membuat keputusan. Ia merekam sebuah kidung. Bukan lagu cinta. Bukan lagu yang bisa membawanya terkenal. Ia mengambil kalimat-kalimat dari cerita Rasmi, lalu menyusunnya menjadi lagu. Ia menyanyikannya dengan suara yang mula-mula gemetar.

“Jangan tebang akar yang memegang tanah,
jangan jual teduh yang menyimpan ikan,
laut bukan marah, laut hanya pulang,
ketika manusia lupa jalan pulang.”

Naira mengunggahnya. Ia tidak berharap apa-apa. Tetapi keesokan paginya, videonya telah beredar ke seluruh desa. Seorang ibu meminta Naira menyanyikannya di depan rumah. Kemudian seorang nelayan. Kemudian anak-anak.

Kidung itu berpindah dari mulut ke mulut. Dari satu rumah ke rumah lain. Orang-orang mulai menanam bibit bakau. Para pemuda yang sebelumnya mengejek tradisi mulai datang membawa cangkul. Bahkan beberapa orang yang semula mendukung proyek mulai bertanya.

“Kalau bakau hilang, benar pantai bisa semakin terkikis?”

“Benarkah ikan mencari tempat berlindung di akar bakau?”

“Siapa yang akan bertanggung jawab kalau air laut masuk ke kampung?”

Untuk pertama kalinya, cerita Rasmi tidak berhenti sebagai cerita. Ia berubah menjadi pertanyaan. Dan pertanyaan berubah menjadi keberanian. Malam pertunjukan tiba. Lapangan desa penuh.

Naira berdiri di panggung sederhana dengan mikrofon di tangan. Rasmi seharusnya duduk di barisan depan. Tetapi kursinya kosong.

“Nenek mana?” tanya Naira.

Tidak ada yang tahu. Ia mencoba menelepon. Tidak aktif.

“Katanya tadi sore pergi ke bakau,” jawab seorang tetangga.

Jantung Naira berdegup. Ia berlari. Menyusuri jalan tanah. Melewati tambak. Menuju hutan.

“Nek!”

Tidak ada jawaban.

“Nenek!”

Angin meniup daun-daun bakau. Naira terus masuk. Air setinggi mata kaki menggenangi jalan. Kemudian ia melihat sesuatu. Selendang putih milik Rasmi tersangkut pada akar. Naira membeku.

“Nenek…?”

Ia mendengar suara. Seperti orang menangis. Atau bernyanyi. Suara itu datang dari dalam hutan. Naira mengikutinya. Semakin jauh. Semakin gelap. Hingga ia tiba di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi bakau tua.

Di sana terdapat sebuah lubang besar. Bekas galian. Tanahnya masih basah. Dan di tepinya tergeletak ponsel Rasmi. Layar ponsel itu menyala. Sebuah rekaman sedang berjalan. Suara Rasmi terdengar.

“Kalau suatu hari Naira mendengar rekaman ini, berarti mereka sudah mulai menggali.”

Naira menutup mulutnya.

“Nek?”

Rekaman berlanjut.

“Dulu, ketika bakau pertama ditebang oleh orang-orang yang lupa, nenek moyang kita membuat kidung. Bukan untuk memanggil roh. Bukan untuk meminta keajaiban.”

Suara Rasmi terdengar semakin lirih.

“Untuk mengingatkan manusia.”

Tiba-tiba terdengar suara mesin. Naira menoleh. Dari balik pepohonan, dua lampu besar muncul. Sebuah alat berat bergerak perlahan menuju hutan. Mereka sudah mulai bekerja malam itu. Naira berlari.

“Nenek!”

Dari balik akar, ia mendengar suara batuk.

“Naira?”

Gadis itu berbalik. Rasmi terbaring di tanah. Kakinya terjepit di antara akar.

“Nenek!”

Naira berlutut.

“Kamu kenapa ke sini sendirian?”

“Aku mau melihat… sampai sejauh mana mereka menggali.”

Naira mencoba menarik kaki neneknya. Tidak berhasil. Alat berat semakin dekat. Cahayanya menembus sela-sela pohon.

“Pegang tangan Nenek.”

“Nenek harus keluar!”

“Dengar.”

Rasmi menggenggam tangan Naira.

“Jangan selamatkan Nenek dulu.”

Naira menatapnya tidak percaya.

“Selamatkan suara itu.”

“Apa?”

“Suaramu.”

Mesin menggeram. Tanah bergetar. Rasmi tersenyum.

“Kamu ingin jadi penyanyi, kan?”

Air mata Naira jatuh.

“Iya.”

“Kalau begitu bernyanyilah.”

“Nek, ini bukan waktunya!”

“Justru sekarang waktunya.”

Naira berlari keluar dari hutan. Ia berlari sekuat tenaga menuju lapangan. Pertunjukan belum selesai. Orang-orang masih berkumpul. Musik berhenti ketika Naira muncul.

“Nenek saya terjebak di dalam hutan!”

Semua orang berdiri.

“Alat berat sudah masuk!”

Kepala desa pucat.

“Mustahil. Izin pembangunan baru berlaku besok.”

Naira menatapnya.

“Besok hutan itu mungkin sudah tidak ada.”

Tak seorang pun bergerak. Naira mengambil mikrofon. Tangannya gemetar. Lalu ia menyanyi. Sendirian.

“Jangan tebang akar yang memegang tanah, jangan jual teduh yang menyimpan ikan…”

Suara pertama terdengar kecil. Kemudian seorang perempuan ikut bernyanyi. Lalu seorang anak. Seorang nelayan. Para pemuda. Orang-orang yang tadi duduk diam. Kidung itu membesar.

Mereka berjalan menuju hutan. Ratusan orang. Membawa senter. Membawa cangkul. Membawa tali. Membawa suara. Ketika mereka tiba, alat berat itu berhenti. Rasmi masih terjebak. Beberapa nelayan segera membebaskannya. Tetapi tidak ada yang pulang.

Mereka berdiri di hadapan alat berat sambil menyanyikan kidung yang sama. Malam itu, untuk pertama kalinya, tidak ada yang bertanya berapa harga satu pohon bakau.

Mereka bertanya:

Berapa harga sebuah kampung jika akarnya dicabut?

Pagi datang perlahan. Proyek dihentikan sementara. Bukan karena satu lagu. Bukan pula karena satu nenek. Tetapi karena satu desa akhirnya menyadari bahwa mereka hampir kehilangan sesuatu yang selama ini terlalu dekat dengan mata untuk dihargai.

Beberapa minggu kemudian, kawasan itu dipenuhi bibit mangrove. Anak-anak sekolah datang membawa botol air. Para nelayan membuat jalur penanaman. Para perempuan memasak untuk para relawan. Dan setiap kali satu bibit ditanam, seseorang membacakan satu bagian dari cerita Rasmi.

Naira tetap bernyanyi. Tetapi sekarang ia tidak lagi mengejar panggung semata. Ia mendatangi desa-desa pesisir lain. Menyanyikan kidung. Merekam cerita para tetua. Mengajarkan anak-anak menyebut nama pohon, ikan, burung, dan tempat-tempat yang mulai dilupakan. Suatu sore, Naira duduk bersama Rasmi di tepi hutan.

“Sekarang Nenek percaya aku bisa jadi penyanyi?”

Rasmi tertawa.

“Dari dulu Nenek percaya.”

“Kenapa dulu tidak bilang?”

“Karena penyanyi yang hanya ingin didengar orang belum tentu berguna.”

Naira tersenyum.

“Kalau penyanyi yang ingin membuat orang mendengar?”

Rasmi menatap hutan.

“Itu baru penyanyi.”

Angin laut berembus. Daun-daun bakau bergerak serempak. Naira menutup mata. Ia mendengar suara yang dulu membuatnya takut. Kidung yang mengalir dari satu akar ke akar lain. Dan ia akhirnya mengerti.

Hutan itu tidak pernah benar-benar bernyanyi. Manusialah yang bernyanyi untuk mengingatnya. Sebab pohon tidak dapat berteriak ketika ditebang. Laut tidak selalu dapat memperingatkan ketika batasnya digeser. Dan akar tidak dapat meminta manusia berhenti mencabutnya.

Maka selama masih ada suara yang mau bercerita, menyanyi, dan mengingat—

hutan belum sepenuhnya kehilangan harapan. ©CerpenMrapen2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *